Sejarah Mahkota Binokasih dan Tapak Tilas Pajajaran di Jawa Barat

mediasuararakyat.id – Mahkota Binokasih Sanghyang Pake merupakan salah satu pusaka bersejarah paling penting dalam kebudayaan Sunda. Mahkota tersebut dikenal sebagai simbol kebesaran Kerajaan Sunda Pajajaran sekaligus lambang kepemimpinan, persatuan, dan kasih sayang dalam filosofi masyarakat Sunda.

Dalam sejarah Tatar Sunda, Mahkota Binokasih diyakini berasal dari era Kerajaan Sunda Pajajaran yang pernah berjaya di wilayah Jawa Barat. Nama “Binokasih” memiliki makna kasih sayang, sedangkan “Sanghyang Pake” dimaknai sebagai benda suci yang digunakan dalam kehidupan kerajaan dan adat masyarakat Sunda.

Mahkota tersebut digunakan dalam prosesi kerajaan sebagai simbol legitimasi kekuasaan raja Sunda. Selain menjadi lambang kebesaran kerajaan, Mahkota Binokasih juga memiliki nilai filosofis mendalam yang mengajarkan prinsip silih asah, silih asih, dan silih asuh dalam kehidupan masyarakat Sunda.

Sejarah mencatat, setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran pada abad ke-16, Mahkota Binokasih kemudian diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun dari Sumedang Larang sebagai simbol penerus budaya dan kepemimpinan Sunda. Hingga kini, pusaka tersebut masih dijaga secara adat oleh Keraton Sumedang Larang.

Pada tahun 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggelar rangkaian budaya bertajuk Tapak Tilas Pajajaran atau Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Tatar Sunda yang ditetapkan melalui Pergub Jawa Barat Nomor 13 Tahun 2026.

Rangkaian kirab budaya berlangsung sejak 2 Mei hingga 18 Mei 2026 dengan membawa Mahkota Binokasih asli dan replika ke berbagai daerah yang memiliki jejak sejarah Kerajaan Sunda Pajajaran. Kegiatan tersebut bertujuan mengenalkan kembali sejarah Sunda kepada generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.

Puncak acara digelar di Gedung Sate, Kota Bandung, melalui Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda yang melibatkan 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat. Kirab dimulai dari kawasan Kiara Artha Park menuju Gedung Sate dengan menampilkan berbagai atraksi budaya Sunda, pasukan adat, kereta kencana, hingga pengawalan Mahkota Binokasih.

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut memimpin kirab budaya dengan menunggang kuda putih sambil mengawal langsung Mahkota Binokasih bersama tokoh adat dan para kepala daerah.

Kirab dan Tapak Tilas Pajajaran tidak hanya menjadi seremoni budaya, namun juga menjadi upaya menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah Sunda di tengah masyarakat modern. Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya dan sejarah leluhur Sunda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *