mediasuararakya.id – Pacu jalur bukan sekadar perlombaan atau festival tahunan. Tradisi yang telah mengakar di tengah masyarakat Kuantan Singingi itu merupakan identitas budaya, perekat sosial, sekaligus potensi besar dalam menggerakkan perekonomian dan pariwisata daerah.
Karena itu, keberlangsungan pacu jalur dinilai tidak cukup hanya mengandalkan panitia pelaksana maupun masyarakat. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat perlu mengambil peran bersama agar tradisi tersebut tetap hidup, berkembang, dan tidak kehilangan nilai serta jati dirinya.
Pandangan tersebut disampaikan Lorena Tampubolon, SH, putri Kuantan Singingi yang saat ini menempuh pendidikan Magister Hukum di Universitas Indonesia. Ia menilai pembangunan daerah harus berjalan seiring dengan upaya menjaga dan melestarikan budaya lokal.
Menurut Lorena, pemerintah daerah perlu memandang pacu jalur secara lebih luas. Pacu jalur tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai agenda tahunan, tetapi juga sebagai aset kebudayaan dan bagian dari kekuatan pembangunan daerah yang membutuhkan perhatian serta perencanaan jangka panjang.
“Jangan sampai kita hanya hadir ketika pacu jalur menjadi tontonan. Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus hadir ketika tradisi ini membutuhkan pembinaan, perlindungan, fasilitas, dan arah masa depan,” ujar Lorena.
Ia menilai perubahan zaman menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan pacu jalur. Generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan digital yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Karena itu, diperlukan pendekatan baru untuk memperkenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap pacu jalur kepada generasi muda tanpa menghilangkan nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya.
Lorena mendorong pemerintah bersama berbagai pihak membangun ekosistem yang lebih kuat, mulai dari pembinaan generasi muda dan atlet pacu jalur, penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan wisata berbasis budaya, dokumentasi sejarah, pelestarian nilai adat, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperkenalkan pacu jalur ke tingkat nasional maupun internasional.
Namun, menurutnya, modernisasi tidak boleh menghilangkan posisi masyarakat sebagai pemilik utama kebudayaan tersebut.
“Pacu jalur boleh semakin modern. Promosinya boleh semakin digital dan perhelatannya boleh semakin besar. Tetapi semangat gotong royong, kebersamaan, adat, dan identitas masyarakat Kuantan Singingi harus tetap menjadi jiwanya,” katanya.
Bagi Lorena, kemajuan daerah seharusnya tidak membuat masyarakat semakin jauh dari akar budayanya. Justru semakin berkembang sebuah daerah, semakin kuat pula komitmen untuk menjaga identitas dan warisan budayanya.
Dari tepian Sungai Kuantan, pacu jalur menjadi simbol bahwa warisan budaya bukan hanya sesuatu yang harus dikenang, tetapi juga harus dipersiapkan keberlangsungannya untuk generasi mendatang.
Karena itu, tanggung jawab menjaga pacu jalur tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah harus hadir, masyarakat harus bergerak, generasi muda harus meneruskan, dunia pendidikan harus memperkuat pemahaman budaya, dan dunia usaha dapat mengambil bagian dalam mendukung pengembangannya.
“Kalau hari ini kita hanya sibuk merayakan pacu jalur, tetapi lupa menyiapkan masa depannya, maka suatu saat generasi mendatang mungkin hanya akan mengenalnya sebagai sebuah cerita. Jangan sampai itu terjadi,” tegas Lorena.
Pacu jalur harus tetap hidup, bukan hanya di sungai saat perlombaan digelar, tetapi juga di hati masyarakat Kuantan Singingi sebagai warisan budaya yang terus dijaga, diwariskan, dan dibanggakan lintas generasi.






